Kamis, 01 September 2016

Tempat belinya dimana ?

Tempat belinya dimana ?


Syarat untuk dijadikan hewan Qurban itu apa ?

>Syarat untuk menjadi hewan Qurban 

Qurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu. [1]. Hewan qurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa. [2]. Telah sampai usia yang dituntut syariâ??at berupa jazaâ??ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya. Ats-Tsaniy dari unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun Ats-Tsaniy dari sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun Ats-Tsaniy dari kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun Al-Jadzaâ adalah yang telah sempurna berusia enam bulan [3]. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Buta sebelah yang jelas/tampak Sakit yang jelas. Pincang yang jelas Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berqurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh. [4]. Hewan qurban tersebut milik orang yang berqurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berqurban dengannya. Maka tidak sah berqurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut. [5]. Tidak ada hubungan dengan hakl orang lain. Maka tidak sah berqurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya di bagi. [6]. Penyembelihan qurbannya harus terjadi pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan qurbannya tidak sah [Lihat Bidaaytul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaaâ??Iâ'ush Shanaâ'i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30). [Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] ©[ Forumhijau.com - FHI/Republika/Pewartaekbis] Janganlah kalian menyembelih kecuali Musinnah.Kecuali jika terasa sulit bagi kalian,maka sembelihlah Jadza’ah dari domba” (HR. Muslim No. 1963 ) Unta Musinnah = 5 Tahun Sapi Musinnah = 2 Tahun Kambing Musinnah = 1 Tahun Domba Jadza’ah = 6 Bulan “Sesungguhnya domba usia 6 bulan nilainnya sama dengan kambing usia 1 tahun” (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah)

Tujuanya apa ber qurban ?

Tujuanya apa ?

Definisi Qurban
Qurban adalah segala bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana yang dijadikan dalil dalam kata QURBAN yang terdapat dalam AlQuran surat Al Maidah: 27.
Definisi Udhiyyah
Udhiyyah adalah domba yang disembelih pada waktu Dhuha di hari Ied dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata Udhiyyah jamaknya adalah Adha kemudian jamak dari Adha adalah Adhaahii. Udhiyyah merupakan sunnah yang diwajibkan (amalan Rasulullah yang tidak pernah ditinggalkan selama hidupnya) pada setiap rumah yang mampu sanak keluarganya.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum sholat id maka diulangi kembali penyembelihannya.” (HR.Bukhari)
Dan Abu Ayyub Al Anshary berkata: “Ada seseorang di zaman Rasulullah saw menyembellih dombanya untuk dirinya dan keluarganya.” (HR.Tirmudzi)
Adapun hikmah berqurban adalah:
1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT (QS. Al-An’an: 162, Al-Hajj: 36-37);
2. Menghidupkan sunnah Bapaknya para nabi yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam;
3. Memberi kelapangan kepada keluarga dan kerabat serta menebarkan kasih sayang kepada kaum fakir miskin;
4. Bersyukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya menundukkan hewan-hewan ternak pada kita;
Adapun syarat hewan Qurban adalah :
1. Umur (hewan Qurban)
Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menyembelih untuk berqurban kecuali sudah berumur satu tahun (telah berganti gigi), kecuali jika sukar didapati, maka boleh yang cukup umur (sekitar enam bulan).” (HR.Muslim)
2. Keselamatan hewan Qurban
Ini berdasarkan sabda Rasul: ada 4 kondisi hewan yang tidak sah diqurbankan, diantaranya:
a. Buta sebelah dan jelas sekali kebutaanya
b. Sakit dan tampak jelas sakitnya
c. Pincang dan tampak jelas pincangnya
d. Sangat kurus, sampai-sampai seolah-olah tidak berdaging dan bersumsum (HR.Tirmidzi)
Keutamaan Berqurban
Sesungguhnya Rasulullah selalu berqurban dengan kibas yang bertanduk, yang nampak kejantanannya dengan mata (sekitarnya) hitan, mulut yang hitam, dan berjalan dengan kaki yang hitam.” (HR.Tirmidzi)
Waktu Berqurban
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyembelih hewan setelah shalat maka telah sempurna ibadahnya dan bersesuaian dengan kaum muslimin.” (HR.Bukhari)
Rasulullah bersabda: “Setiap hari Tasyriq adalah hari berqurban.” (HR.Bukhari Muslim)
Upah bagi orang yang menyembelih hewan qurban adalah dari kita.
Rasulullah bersabda: “Kami memberinya dari uang kami.” (HR.Musllim)
Tuntunan yang disunnahkan ketika menyembelih hewan qurban, adalah:
Mengarahkan hewan qurban ke arah kiblat dan mengucapkan:
وَجَّهْتُوَجْهِيَلِلَّذِيْفَطَرَالسَّموَاتِوَالأرْضِحَنِيْفاًوَمَاأَنَامِنَالْمُشْرِكِيْنَ،إِنّصَلَاتِيْوَنُسُكِيْوَمَحْيَايَوَمَمَاتِيْلِلّهِرَبِّالعَالَمِيْنَلَاشَرِيْكَلَهُوَبِذَلِكَأَمَرْتُوَأَنَامِنَالمُسْلِمِيْنَ
1. Disaat menyembelih hewan mengucapkan:
بِاسْمِاللهوَاللهُأَكْبَر،اللّهمّهَذاَمِنْكَوَلَكَ
Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ini qurbanku dari Engkau, aku persembahkan untuk-Mu Ya Allah. Ya Allah ini Qurbanku/Qurban si fulan. Kemudian membaca مِنِّيبِاسْمِاللهاللّهمّتَقَبَّلْ
Ya Allah terimalah qurbanku seperti Engkau menerima qurbannya kekasih-Mu Ibrahim alaihis salam. Dan kami memohon dengan qurban ini Kau menjadikan kami, anak cucu kami, ulama yang sholeh, menjadi orang kaya yang bersyukur, menjadi haji mabrur, menjadi penghafal Quran dengan rahmatMu wahai Yang Maha pengasih.”
Sah hukumnya mewakilkan dalam menyembelih hewan Qurban. Dan disunnahkan agar setiap seorang muslim menyembelih sendiri hewan Qurbannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.
Cara Pembagian Hewan Qurban
Disunnahkan membagi daging hewan Qurban menjadi tiga tahap:
1. Memakan bersama keluarga
2. Disimpan sebagian
3. Disedekahkan
Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian melihat hilal pertanda datangnya bulan Dzulhijjah dan kalian ingin berqurban dan janganlah kalian memotong rambut dan kukunya hingga datang waktu berqurban.” (HR.Muslim)

Sumber: Fb Pondok Qur'an

Apa maksudnya berqurban

Apa maksudnya berqurban

Dalam sejarah umat manusia, praktik Qurban telah dikenal sejak lama. Ironisnya, manusia seringkali dijadikan Qurban untuk tuhan atau dewa yang mereka sembah. Di Mesir Kuno, gadis yang paling cantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Di Kanaan, Irak, bayi-bayi disembelih untuk Dewa Baal. Suku Aztex di Mexico, menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Orang-orang Viking di Eropa Utara mengorbankan tokoh-tokoh agama kepada Dewa Perang Odin. Islam datang memelihara tradisi ber-Qurban dengan cara dan corak yang berbeda dengan kepercayaan yang dianut sebelumnya.
Ibadah Qurban bukanlah syariat yang baru di zaman Nabi Muhammad saw, sebaliknya ia adalah ibadah yang telah lama diperkenalkan sejak zaman Nabi Adam as (alaihis salam), ketika peristiwa konflik antara Habil dan Qabil. Firman Alloh SWT di dalam surah Al-Hajj ayat 34: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (Qurban), supaya mereka menyebut nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Alloh kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh)”.
Syariat ber-Qurban dalam Islam, sejarahnya tidak bisa dipisahkan dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail. Praktik Qurban Nabi Ibrahim as sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Peristiwa ini diabadikan oleh Alloh SWT :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). (QS. Ash Shaffat, 37:102-103).
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash Shaffat, 37:107).
Dalam ayat itu, Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih anaknya Ismail melalui mimpinya. Dengan perasaan ragu-ragu dan rasa sedih yang mendalam Ibrahim melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menyembelihnya. Lalu Alloh SWT menebusnya (Ismail) dengan seekor binatang sembelihan yang besar.
Melalui peristiwa ini sebenarnya Alloh SWT ingin menyindir praktik-praktik ber-Qurban umat manusia terdahulu dimana mereka mengorbankan manusia untuk kepentingan ritual kepada tuhan. Praktik ber-Qurban seperti itu tidak sejalan dengan semangat Islam yang menjunjung tinggi nilai, harkat dan martabat manusia. Islam sangat mengutuk prilaku-prilaku menindas, membunuh dan menganiaya manusia untuk kepentingan duniawi maupun untuk kepentingan ritual. Hewan sembelihan pada dasarnya merupakan simbol pengorbanan manusia, yang diinginkan sebenarnya adalah bagaimana manusia harus mengorbankan : sifat-sifat buruk (tercela) yang ada dalam dirinya, seperti sifat kikir, tamak dan menindas orang lain. Sifat seperti itu harus dibunuh dan dikorbankan demi untuk mencapai kedekatan kepada Alloh.
Itulah sebabnya Alloh SWT mengingatkan bahwa Qurban yang dilakukan hamba-Nya tidak akan memperoleh keridho-an Alloh kecuali melalui ketaqwaan.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj, 22:37).
Inilah bukti nyata seorang hamba yang mengakui bahwa Alloh SWT sebagai Tuhannya. Adalah sebuah kebohongan besar bila seseorang meyakini bahwa Alloh SWT sebagai Tuhan, sementara ia tidak bersedia sedikitpun mengorbankan apa yang dimiliki untuk kepentingan Alloh SWT. Salah satu bentuk pengurbanan manusia yang paling utama adalah menundukan hawa nafsu untuk patuh pada perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan-Nya. Diantara bentuk kepatuhan itu adalah selalu menyediakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Alloh menurunkan syariat ini adalah untuk menuntun hidup manusia agar senantiasa berjalan menuju ke arah kebajikan dan kedamaian. Karena itu kebajikan dan kedamaian akan kita peroleh bila kita mau menjadikan syariat sebagai acuan dalam berbuat dan berprilaku. Buah dari ketaatan kepada Alloh SWT akan dapat kita rasakan di Dunia ini, demikian pula buah dari kedurhakaan kita kepada Alloh SWT juga dapat kita rasakan di Dunia ini, karena itu pilihan ada di tangan kita. Dalam sejarah sebagaimana yang dikisahkan di dalam Al-Qur'an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil dan Qabil, putra Nabi Adam as serta pada saat Nabi Ibrahim as akan mengorbankan Ismail atas perintah Alloh.
QURBAN, PENGORBANAN DEMI KEYAKINAN, CINTA DAN CITA-CITA PERJUANGAN
Tahukah Sobat apa kesamaan dari pahlawan kemerdekaan dan pequrban? Keduanya sama-sama pahlawan yang melakukan pengorbanan demi keyakinan, cinta dan cita-cita perjuangannya masing-masing.
Seorang pahlawan kemerdekaan berkorban jiwa dan raga demi keyakinannya bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia dan hak semua bangsa, demi cinta yang mendalam kepada tanah air dan demi cita-cita perjuangan yang besar untuk mewujudkan sebuah Negara yang merdeka.
Sementara itu, seorang pequrban berkorban harta demi keyakinan dan cinta kepada Allah yang dia buktikan dengan memenuhi perintah-Nya untuk berqurban dan demi cita-cita untuk membahagiakan sesama, mengurangi kesulitan saudara yang kekurangan. Bahkan, jika kita kembali merunut sejarah qurban, kita tahu bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya seputar harta, bahkan jiwa. Nabi Ismail rela dikurbankan untuk memenuhi perintah Allah, karena dia yakin, Allah mencintainya dan tak akan pernah mendzolimi-Nya.
Setiap yang disyariatkan Allah kepada manusia, pasti memiliki maksud dan makna dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban di samping memiliki makna untuk menjadikan seseorang shaleh secara ritual juga bermaksud menjadikan seseorang shaleh secara sosial. Artinya, berqurban selain sebagai konkretisasi keyakinan dan ketundukan diri kepada Sang Pencipta (keshalehan ritual) juga ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas moral dan sosial (keshalehan sosial) para pequrban.
Seharusnya kita memahami sepenuhnya bahwa perintah qurban juga merupakan suatu upaya menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Karena salah satu makna qurban adalah memberikan sesuatu yang paling berharga, maka dalam konteks sosial hal tersebut dapat dimaknai sebagai suatu bentuk kepedulian dan empati secara sosial.
Ibadah qurban hanya dibebankan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan. Substansi qurban dari aspek sosial berarti pendidikan kepada orang yang mampu untuk memberikan sebagian harta kekayaannya kepada yang membutuhkan, dengan harapan dapat meringankan beban penderitaan bagi kaum lain yang masih kurang secara sosial ekonomi.
Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk berqurban, tetapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Disini Rasulullah mengingatkan betapa pentingnya ibadah qurban bagi mereka yang telah mampu, bahkan Rasulullah pun menyampaikan satu sanksi sosial bagi mereka yang melanggar, yaitu untuk tidak mendekati tempat shalat (masjid/mushala). Hal ini dikarenakan tempat shalat merupakan basis dan modal sosial kaum muslimin, sehingga jika ada seorang yang mampu tapi tidak mau berqurban, telah menunjukkan ketidakpeduliannya secara sosial kepada masyarakat.
Seberapa paham kamu tentang Awal Sejarah Qurban ?
Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta