Kamis, 01 September 2016

Apa maksudnya berqurban

Apa maksudnya berqurban

Dalam sejarah umat manusia, praktik Qurban telah dikenal sejak lama. Ironisnya, manusia seringkali dijadikan Qurban untuk tuhan atau dewa yang mereka sembah. Di Mesir Kuno, gadis yang paling cantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Di Kanaan, Irak, bayi-bayi disembelih untuk Dewa Baal. Suku Aztex di Mexico, menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Orang-orang Viking di Eropa Utara mengorbankan tokoh-tokoh agama kepada Dewa Perang Odin. Islam datang memelihara tradisi ber-Qurban dengan cara dan corak yang berbeda dengan kepercayaan yang dianut sebelumnya.
Ibadah Qurban bukanlah syariat yang baru di zaman Nabi Muhammad saw, sebaliknya ia adalah ibadah yang telah lama diperkenalkan sejak zaman Nabi Adam as (alaihis salam), ketika peristiwa konflik antara Habil dan Qabil. Firman Alloh SWT di dalam surah Al-Hajj ayat 34: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (Qurban), supaya mereka menyebut nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Alloh kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh)”.
Syariat ber-Qurban dalam Islam, sejarahnya tidak bisa dipisahkan dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail. Praktik Qurban Nabi Ibrahim as sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Peristiwa ini diabadikan oleh Alloh SWT :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). (QS. Ash Shaffat, 37:102-103).
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash Shaffat, 37:107).
Dalam ayat itu, Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih anaknya Ismail melalui mimpinya. Dengan perasaan ragu-ragu dan rasa sedih yang mendalam Ibrahim melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menyembelihnya. Lalu Alloh SWT menebusnya (Ismail) dengan seekor binatang sembelihan yang besar.
Melalui peristiwa ini sebenarnya Alloh SWT ingin menyindir praktik-praktik ber-Qurban umat manusia terdahulu dimana mereka mengorbankan manusia untuk kepentingan ritual kepada tuhan. Praktik ber-Qurban seperti itu tidak sejalan dengan semangat Islam yang menjunjung tinggi nilai, harkat dan martabat manusia. Islam sangat mengutuk prilaku-prilaku menindas, membunuh dan menganiaya manusia untuk kepentingan duniawi maupun untuk kepentingan ritual. Hewan sembelihan pada dasarnya merupakan simbol pengorbanan manusia, yang diinginkan sebenarnya adalah bagaimana manusia harus mengorbankan : sifat-sifat buruk (tercela) yang ada dalam dirinya, seperti sifat kikir, tamak dan menindas orang lain. Sifat seperti itu harus dibunuh dan dikorbankan demi untuk mencapai kedekatan kepada Alloh.
Itulah sebabnya Alloh SWT mengingatkan bahwa Qurban yang dilakukan hamba-Nya tidak akan memperoleh keridho-an Alloh kecuali melalui ketaqwaan.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj, 22:37).
Inilah bukti nyata seorang hamba yang mengakui bahwa Alloh SWT sebagai Tuhannya. Adalah sebuah kebohongan besar bila seseorang meyakini bahwa Alloh SWT sebagai Tuhan, sementara ia tidak bersedia sedikitpun mengorbankan apa yang dimiliki untuk kepentingan Alloh SWT. Salah satu bentuk pengurbanan manusia yang paling utama adalah menundukan hawa nafsu untuk patuh pada perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan-Nya. Diantara bentuk kepatuhan itu adalah selalu menyediakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Alloh menurunkan syariat ini adalah untuk menuntun hidup manusia agar senantiasa berjalan menuju ke arah kebajikan dan kedamaian. Karena itu kebajikan dan kedamaian akan kita peroleh bila kita mau menjadikan syariat sebagai acuan dalam berbuat dan berprilaku. Buah dari ketaatan kepada Alloh SWT akan dapat kita rasakan di Dunia ini, demikian pula buah dari kedurhakaan kita kepada Alloh SWT juga dapat kita rasakan di Dunia ini, karena itu pilihan ada di tangan kita. Dalam sejarah sebagaimana yang dikisahkan di dalam Al-Qur'an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil dan Qabil, putra Nabi Adam as serta pada saat Nabi Ibrahim as akan mengorbankan Ismail atas perintah Alloh.
QURBAN, PENGORBANAN DEMI KEYAKINAN, CINTA DAN CITA-CITA PERJUANGAN
Tahukah Sobat apa kesamaan dari pahlawan kemerdekaan dan pequrban? Keduanya sama-sama pahlawan yang melakukan pengorbanan demi keyakinan, cinta dan cita-cita perjuangannya masing-masing.
Seorang pahlawan kemerdekaan berkorban jiwa dan raga demi keyakinannya bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia dan hak semua bangsa, demi cinta yang mendalam kepada tanah air dan demi cita-cita perjuangan yang besar untuk mewujudkan sebuah Negara yang merdeka.
Sementara itu, seorang pequrban berkorban harta demi keyakinan dan cinta kepada Allah yang dia buktikan dengan memenuhi perintah-Nya untuk berqurban dan demi cita-cita untuk membahagiakan sesama, mengurangi kesulitan saudara yang kekurangan. Bahkan, jika kita kembali merunut sejarah qurban, kita tahu bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya seputar harta, bahkan jiwa. Nabi Ismail rela dikurbankan untuk memenuhi perintah Allah, karena dia yakin, Allah mencintainya dan tak akan pernah mendzolimi-Nya.
Setiap yang disyariatkan Allah kepada manusia, pasti memiliki maksud dan makna dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban di samping memiliki makna untuk menjadikan seseorang shaleh secara ritual juga bermaksud menjadikan seseorang shaleh secara sosial. Artinya, berqurban selain sebagai konkretisasi keyakinan dan ketundukan diri kepada Sang Pencipta (keshalehan ritual) juga ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas moral dan sosial (keshalehan sosial) para pequrban.
Seharusnya kita memahami sepenuhnya bahwa perintah qurban juga merupakan suatu upaya menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Karena salah satu makna qurban adalah memberikan sesuatu yang paling berharga, maka dalam konteks sosial hal tersebut dapat dimaknai sebagai suatu bentuk kepedulian dan empati secara sosial.
Ibadah qurban hanya dibebankan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan. Substansi qurban dari aspek sosial berarti pendidikan kepada orang yang mampu untuk memberikan sebagian harta kekayaannya kepada yang membutuhkan, dengan harapan dapat meringankan beban penderitaan bagi kaum lain yang masih kurang secara sosial ekonomi.
Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk berqurban, tetapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Disini Rasulullah mengingatkan betapa pentingnya ibadah qurban bagi mereka yang telah mampu, bahkan Rasulullah pun menyampaikan satu sanksi sosial bagi mereka yang melanggar, yaitu untuk tidak mendekati tempat shalat (masjid/mushala). Hal ini dikarenakan tempat shalat merupakan basis dan modal sosial kaum muslimin, sehingga jika ada seorang yang mampu tapi tidak mau berqurban, telah menunjukkan ketidakpeduliannya secara sosial kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar